LAPORAN PENDAHU;UAN ASMA BRONCHIAL

ASMA BRONCIAL


A.    Konsep Dasar
  1. Definisi
Asma adalah penyakit jalan napas obstruktif intermiten, reversible dimana trakea dan bronkus berespon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu, dan dimanifestasikan dengan penyempitan jalan napas, yang mengakibatkan dispnea, batuk dan mengi(Brunner & Suddarth, 2002).
Asma adalah suatu penyakit jalan napas yang ditandai oleh periode bronkospasme, merupakan penyakit kompleks yang meliputi biokimia, imunologi, endokrin, infeksi, autoimun dan faktor psikologi (Luckman and Sorensen’s, 2003).
Asma adalah suatu penyakit peradangan kronik pada jalan napas yang mana peradangan ini menyebabkan perubahan derajat obstruksi pada jalan napas dan menyebabkan kekambuhan(Lewis, 2010).
Asma adalah keadaan klinis yang ditandai oleh masa penyempitan bronkus yang reversible(Sylvia A. Price, 2005).
Jenis-jenis Asma :
a.       Asma alergik
Yaitu asma yang disebabkan oleh alergen, misalnya: serbuk sari binatang, marah, makanan dan jamur. Biasanya mempunyai riwayat keluarga yang alergen dan riwayat medis masa lalu, iskemia dan rhinita alergik.
b.      Asma idiopatik atau non alergik
Yaitu tidak berhubungan dengan alergen spesifik, faktor-faktor seperti common vold, infeksi traktus respiratorius, latihan, emosi dan lingkungan pencetus serangan.Serangan menjadi lebih berat dan dapat berkembang menjadi bronkitis kronis dan empisema.
c.       Asma gabungan
Yaitu bentuk asma yang paling umum, mempunyai karakteristik dari bentuk alergik maupun bentuk idiopatik atau non alergik.

Klasifikasi Asma:
a.       Mid Intermiten
Yaitu kurang dari 2 kali seminggu dan hanya dalam waktu yang pendek; tanpa gejala, diantara serangan-serangan pada waktu malam kurang dari 2 kali sebulan.Fungsi paru-paru FEV dan PEF diperkirakan lebih dari 80%.
b.      Mid Persistent
Yaitu serangan lebih ringan tetapi tidak setiap hari, serangan pada waktu malam timbul lebih dari 2 kali sebulan.
Fungsi paru-paru FEV atau PEF diperkirakan sebesar 80%.
c.       Moderat Persistent
Yaitu serangan timbul setiap hari dan memerlukan penggunaan bronkodilator serangan timbul 2 kali atau lebih dalam seminggu dan pada waktu malam timbul gejala berat setiap minggu.Fungsi paru-paru FEV atau PEF diperkirakan 60-80%.
d.      Severe Persistent
Yaitu gejala muncul terus menerus dengan aktivitas yang terbatas, peningkatan frekuensi serangan dan peningkatan frekuensi gejala pada waktu malam.

  1. Anatomi Fisiologi
Saluran pernafasan terdiri dari saluran napas bagian atas dan saluran nafas bagian bawah. Saluran nafas bagian atas terdiri dari : rongga hidung, nasofaring, orofaring dan laringofaring. Saluran nafas bagian bawah terdiri dari laring, trakea, bronkus dan paru-paru.Paru-paru terdiri dari paru kanan dan kiri.Paru kanan terdiri dari 3 lobus dan paru kiri terdiri dari 2 lobus. Saluran udara hingga mencapai paru-paru adalah :
a.       Hidung
Ketika udara masuk ke rongga hidung, udara tersebut disaring, dihangatkan dan dilembabkan. Partikel-partikel yang kasar disaring oleh rambut-rambut yang terdapat dalam hidung, sedangkan partikel halus akan dijerat dalam lapisan mukosa, gerakan silia mendorong lapisan mukus ke posterior di dalam rongga hidung dan ke superior di dalam saluran pernafasan bagian bawah.
b.      Faring
Faring adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai bersambungan dengan aesofagus.Udara yang sudah disaring, dihangatkan dan dilembabkan menuju ke faring akibat dorongan gerakan silia. Dari sini lapisan mukosa akan ditekan dan dibatukkan ke luar. Air untuk pelembaban dihasilkan oleh lapisan mukosa, sedangkan panas yang disuplai ke udara inspirasi berasal dari jaringan di bawahnya yang kaya akan pembuluh darah. Jadi udara inspirasi telah disesuaikan sedemikian rupa sehingga bila mencapai faring hampir bebas dari debu.
c.       Laring
Laring atau organ suara adalah struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dan trakea.Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi, laring juga melindungi jalan nafas bawah dan obstruksi benda asing dan memudahkan batuk.Laring sering disebut sebagai kotak suara.


d.      Trakea
Trakea disokong oleh cincin tulang rawan yang fungsinya untuk mempertahankan agar trakea tetap terbuka.Trakea dilapisi oleh lendir yang terdiri atas epitelium bersilia.Jurusan silia ini bergerak jalan ke atas ke arah laring; maka dengan gerakan ini debu dan butir halus yang turut masuk bersama pernafasan dapat dikeluarkan.
e.       Bronkus
Dari trakea udara masuk ke dalam bronkus. Bronkus memiliki percabangan yaitu bronkus utama kiri dan kanan yang dikenal sebagai karina. Karina memiliki saraf yang menyebabkan bronkospasme dan batuk yang kuat jika dirangsang.
Bronkus utama kiri dan kanan tidak simetris.Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar yang arahnya hampir vertikal, sebaliknya bronkus kiri lebih panjang dan lebih sempit.Cabang utama bronkus bercabang lagi menjadi bronkus lobaris dan kemudian segmentalis percabangan ini terus berjalan menjadi bronkus yang ukurannya makin lama makin kecil sampai akhirnya menjadi bronkus terminalis yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli.
f.       Bronkiolus
Saluran udara ke bawah sampai ke tingkat bronkiolus terminalis merupakan saluran penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru-paru.Setelah bronkiolus terdapat asinus yang merupakan unit fungsional paru yaitu tempat pertukaran gas.Asinus terdiri dari bronkiolus respiratorik, duktus alvedansi sakus.Alvedaris terminalis alveolus dipisahkan dari alveolus di dekatnya oleh dinding septus atau septum.Alveolus dilapisi oleh zat lipoprotein yang dinamakan surfaktan yang dapat mengurangi tegangan pertukaran dalam mengurangi resistensi pengembangan pada waktu inspirasi dan mencegah katub alveolus pada ekspirasi.
Peredaran darah paru-paru
Paru-paru mendapat dua suplai yaitu arteri bronkiolus (berasal dari aorta thorakalis dan berjalan sepanjang dinding posterior bronkus) dan arteri pulmonalis.Sirkulasi bronkial menyediakan darah teroksigenisasi dari sirkulasi sistemik dan berfungsi memenuhi kebutuhan metabolisme paru.
Vena bronkiolus besar bermuara pada vena cava superior dan mengembalikan darah ke atrium kanan. Vena bronkiolus yang lebih kecil akan mengalirkan darah ke vena pulmonalis.
Arteri pulmonalis yang berasal dari ventrikel kanan jantung mengalirkan darah vena campuran ke paru-paru.Di paru-paru terjadi pertukaran gas antara alveoli dan darah, darah yang teroksigenisasi dikembalikan ke ventrikel kiri jantung melalui vena pulmonalis, yang selanjutnya membagikannya melalui sirkulasi sistemik ke seluruh tubuh. Proses pernafasan dipengaruhi oleh :
Ventilasi              :    pergerakan mekanik udara dari dan ke paru-paru
Perfusi                 :    distribusi oksigen oleh darah ke seluruh pembuluh darah dari paru-paru.
Difusi                   :    pertukaran oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan kapiler paru.
Transportasi         : pengangkatan O2-CO2 yang berperan sistem kardiovaskular.

  1. Etiologi
a.       Faktor ekstrinsik : reaksi antigen-antibody, debu, bulu binatang, serbuk-serbuk, spora, jamur, makaan.
b.      Faktor intrinsik : infeksi, iritan, cuaca, palutan, lingkungan, emosi (stress).
c.       Bentuk campuran dari kedua hal di atas.
         4.         Patofisiologi
Asma adalah suatu proses inflamasi kronik yang menghasilkan edema mukus, sekresi mukus dan inflamasi. Obstruksi dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut ini yaitu kontraksi otot-otot yang mengelilingi bronki menyempitkan jalan napas, pembengkakan membran yang melapisi bronki, pengisian bronki dengan mukus yang kental.Beberapa individu dengan asma mengalami respon imun yang buruk terhadap lingkungan.Bila zat-zat alergen memasuki paru-paru sehingga merangsang antibodi yang dihasilkan (IgE) menyerang sel-sel mast dalam paru sehingga menyebabkan pelepasan produk-produk sel-sel mast seperti histamin, bradikinin dan prostaglandin serta anafilaksis dari substansi yang bereaksi lambat (SRS).
Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan napas sehingga menyebabkan bronkospasme, pembengkakan membran mukosa dan pembentukan mukus yang sangat banyak.Sistem saraf otonom mempersarafi paru.Otot bronkial di atur oleh impuls saraf vagal melalui sistem parasimpatik ketika saraf pada jalan napas dirangsang oleh faktor seperti infeksi, latihan, dingin, merokok, dan emosi sehingga jumlah asetilkolin yang dilepaskan meningkat dan menyebabkan bronkokonstriksi yang merangsang pembentukan mediator kimiawi.Selain itu reseptor alfa dan beta adrenergik dari sistem saraf simpatik terletak dalam bronki, sehingga ketika alfa adrenergik dirangsang terjadi bronkokonstriksi dan bronkodilatasi terjadi ketika reseptor beta adrenergik yang dirangsang.
Keseimbangan antara alpha dan beta adrenergik dikendalikan oleh siklik adenosin monophospat (c AMP).Stimulasi reseptor alfa mengakibatkan penurunan c AMP, yang mengarah pada peningkatan mediator kimia yang dilepaskan oleh sel-sel mast bronkokonstriksi.Stimulasi reseptor beta mengakibatkan peningkatan tingkat c AMP yang menghambat pelepasan mediator kimia yang menyebabkan bronkodilatasi.Penyekatan beta adrenergik terjadi pada penderita asma, akibatnya osmotik rentan terhadap peningkatan pelepasan mediator kimia dan konstriksi otot polos.
  
Pathway

 
 




























  1. Tanda dan Gejala
a.       Batuk produktif
b.      Wheezing
c.       Dispnea
d.      Mengi
e.       Ekspirasi memanjang
f.       Barrel chest (dada tong)
g.      Orthopnea
h.      Berkeringat
i.        Tachypnea
j.        Tachycardia.

  1. Test Diagnostik
a.       Rontgen thorax
Pada fase akut menunjukkan hiperinflasi dan pendataran diafragma.
b.      Pemeriksaan darah
IgE meningkat terutama pada asma alergik.
c.       Sputum
d.      AGD
Menunjukkan hipoxia selama serangan akut, PCO2 yang rendah.
e.       Fungsi paru
PEV dan FVC sangat menurun.

  1. Komplikasi
a.       Status asmatiks : asma yang berat dan persistent yang tidak berespon terhadap terapi konvensional.
b.      Pneumonia: proses inflamasi parenkim paru yang umumnya disebabkan oleh agens infeksius.

c.       Atelektasis
d.      Obstruksi jalan nafas
e.       Faktor iga.

  1. Therapi/Pengelolaan Medik
a.       Agenis Beta : untuk mendilatasi otot-otot polos bronkial dan meningkatkan gerakan sililaris. Contoh obat : epinefrin, albutenol, meta profenid, iso proterenoli isoetharine, dan terbutalin. Obat-obat ini biasa digunakan secara parenteral dan inhalasi.
b.      Metil salin untuk bronkodilatasi, merilekskan otot-otot polos, dan meningkatkan gerakan mukus dalam jalan nafas. Contoh obat: aminophyllin, teophyllin, diberikan secara IV dan oral.
c.       Antikolinergik, contoh obat : atropin, efeknya : bronkodilator, diberikan secara inhalasi.
d.      Kortikosteroid, untuk mengurangi inflamasi dan bronkokonstriktor. Contoh obat: hidrokortison, dexamethason, prednison, dapat diberikan secara oral dan IV.
e.       Inhibitor sel mast, contoh obat:  natrium kromalin, diberikan melalui inhalasi untuk bronkodilator dan mengurangi inflamasi jalan nafas.
f.       Oksigen, terapi diberikan untuk mempertahankan PO2 pada tingkat 55 mmHg.
g.      Fisioterapi dada, teknik pernapasan dilakukan untuk mengontrol dispnea dan batuk efektif untuk meningkatkan bersihan jalan nafas, perkusi dan postural drainage dilakukan hanya pada pasien dengan produksi sputum yang banyak.


9.         Penatalaksanaan
Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah :
a.       Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segara
b.      Mengenal dan menghindari fakto-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma
c.       Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenaipenyakit asma, baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnyasehingga penderita mengerti tujuan penngobatan yang diberikan danbekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawatnnya.
Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2, yaitu:
a.       Pengobatan non farmakologik :
Memberikan penyuluhan
Menghindari faktor pencetus
Pemberian cairan
Fisiotherapy
Beri O2 bila perlu.
b.      Pengobatan farmakologik :
1)     Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran nafas.
Terbagi dalam 2 golongan :
Simpatomimetik/andrenergik (Adrenalin dan efedrin) Nama obat :
- Orsiprenalin (Alupent)
- Fenoterol (berotec)
- Terbutalin (bricasma)
Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet, sirup, suntikan dan semprotan. Yang berupa semprotan: MDI (Metered dose inhaler). Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup (Ventolin Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan broncodilator (Alupent, Berotec, brivasma serts Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang sangat halus ) untuk selanjutnya dihirup.
2)     Santin (teofilin)
Nama obat :
- Aminofilin (Amicam supp)
- Aminofilin (Euphilin Retard)
- Teofilin (Amilex)
Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik, tetapi cara kerjanya berbeda. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat.
Cara pemakaian : Bentuk suntikan teofillin / aminofilin dipakai pada serangan asma akut, dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah. Karena sering merangsang lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum sesudah makan. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini. Teofilin ada juga dalam bentuk supositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus. Supositoria ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin (misalnya muntah atau lambungnya kering).
Kromalin
Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. Manfaatnya adalah untuk penderita asma alergi terutama anakanak.  Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain, dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian satu bulan.
Ketolifen
Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Biasanya diberikan dengan dosis dua kali 1mg / hari. Keuntungnan obat ini adalah dapat diberika secara oral.

B.     Konsep Dasar Keperawatan

1.      Pengkajian
a.       Data Umum
1)      Identitas (identitas klin dan penanggung jawab)
2)      Status Kesehatan Saat ini
3)      Riwayat Kesehatan Masa Lalu
4)      Riwayat Kesehatan Keluarga
5)      Riwayat Kesehatan Lingkungan
b.      Pola Kesehatan Fungsional
1)      Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
2)      Pola nutrisi dan metabolik
3)      Pola eliminasi
4)      Pola aktifitas dan latihan
5)      Pola istirahat dan tidur
6)      Pola kognitif dan perseptual sensori
7)      Pola persepsi diri dan konsep diri
8)      Pola mekanisme koping
9)      Pola seksual-reproduksi
10)  Pola peran
11)  Pola nilai dan kepercayaan
c.       Pemeriksaan Fisik (Head to Toe)
d.      Data penunjang
e.       Keluhan :
1)      Sesak nafas tiba-tiba, biasanya ada faktor pencetus
2)      Terjadi kesulitan ekspirasi / ekspirasi diperpanjang
3)      Batuk dengan sekret lengket
4)      Berkeringat dingin
5)      Terdengar suara mengi / wheezing keras
6)      Terjadi berulang, setiap ada pencetus
7)      Sering ada faktor genetik/familier

2.      Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan diagnosa NANDA (210-2011)
a.       Bersihan Jalan Nafas tidak Efektif b.d obstruksi jalan nafas (banyaknya mucus)
b.      Pola Nafas tidak efektif b.d hiperventilasi
c.       Gangguan Pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi
d.      Intoleransi beraktivitas b.d sesak nafas.


  1. Perencanaan Keperawatan
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan criteria Hasil
Intervensi
1
Bersihan Jalan Nafas tidak Efektif
Definisi : Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernafasan untuk mempertahankan kebersihan jalan nafas.

Batasan Karakteristik :
·         Dispneu, Penurunan suara nafas
·         Orthopneu
·         Cyanosis
·         Kelainan suara nafas (rales, wheezing)
·         Kesulitan berbicara
·         Batuk, tidak efekotif atau tidak ada
·         Mata melebar
·         Produksi sputum
·         Gelisah
·         Perubahan frekuensi dan irama nafas

Faktor-faktor yang berhubungan:
·         Lingkungan : merokok, menghirup asap rokok, perokok pasif-POK, infeksi
·         Fisiologis : disfungsi neuromuskular, hiperplasia dinding bronkus, alergi jalan nafas, asma.
·         Obstruksi jalan nafas : spasme jalan nafas, sekresi tertahan, banyaknya mukus, adanya jalan nafas buatan, sekresi bronkus, adanya eksudat di alveolus, adanya benda asing di jalan nafas.

NOC :
v  Respiratory status : Ventilation
v  Respiratory status : Airway patency
v  Aspiration Control

Kriteria Hasil :
v Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
v Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)
v Mampu mengidentifikasikan dan mencegah factor yang dapat menghambat jalan nafas
NIC :
Airway Management
·         Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
·         Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
·         Berikan bronkodilator bila perlu
·         Monitor respirasi dan status O2
Terapi Oksigen
·         Pertahankan jalan nafas yang paten
·         Atur peralatan oksigenasi
·         Monitor aliran oksigen
·         Pertahankan posisi pasien
·         Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi
·         Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi
Vital sign Monitoring
·         Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
·         Monitor kualitas dari nadi
·         Monitor frekuensi dan irama pernapasan
·         Monitor suara paru
·         Monitor pola pernapasan abnormal
·         Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
2
Pola Nafas tidak efektif
Definisi : Pertukaran udara inspirasi dan/atau ekspirasi tidak adekuat
Batasan karakteristik :
·         Penurunan tekanan inspirasi/ekspirasi
·         Penurunan pertukaran udara per menit
·         Menggunakan otot pernafasan tambahan
·         Nasal flaring
·         Dyspnea
·         Orthopnea
·         Perubahan penyimpangan dada
·         Nafas pendek
·         Assumption of 3-point position
·         Pernafasan pursed-lip
·         Tahap ekspirasi berlangsung sangat lama
·         Peningkatan diameter anterior-posterior
·         Pernafasan rata-rata/minimal
-          Bayi : < 25 atau > 60
-          Usia 1-4 : < 20 atau > 30
-          Usia 5-14 : < 14 atau > 25
-          Usia > 14 : < 11 atau > 24
·         Kedalaman pernafasan
-          Dewasa volume tidalnya 500 ml saat istirahat
-          Bayi volume tidalnya 6-8 ml/Kg
·         Timing rasio
·         Penurunan kapasitas vital

Faktor yang berhubungan :
·         Hiperventilasi
·         Deformitas tulang
·         Kelainan bentuk dinding dada
·         Penurunan energi/kelelahan
·         Perusakan/pelemahan muskulo-skeletal
·         Obesitas
·         Posisi tubuh
·         Kelelahan otot pernafasan
·         Hipoventilasi sindrom
·         Nyeri
·         Kecemasan
·         Disfungsi Neuromuskuler
·         Kerusakan persepsi/kognitif
·         Perlukaan pada jaringan syaraf tulang belakang
·         Imaturitas Neurologis

NOC :
v  Respiratory status : Ventilation
v  Respiratory status : Airway patency
v  Vital sign Status

Kriteria Hasil :
v  Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
v Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)
v Tanda Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, pernafasan)
NIC :
Airway Management
·         Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
·         Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
·         Berikan bronkodilator bila perlu
·         Monitor respirasi dan status O2
Terapi Oksigen
·         Pertahankan jalan nafas yang paten
·         Atur peralatan oksigenasi
·         Monitor aliran oksigen
·         Pertahankan posisi pasien
·         Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi
·         Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi
Vital sign Monitoring
·         Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
·         Monitor kualitas dari nadi
·         Monitor frekuensi dan irama pernapasan
·         Monitor suara paru
·         Monitor pola pernapasan abnormal
·         Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit

3
Gangguan Pertukaran gas

Definisi : Kelebihan atau kekurangan dalam oksigenasi dan atau pengeluaran karbondioksida di dalam membran kapiler alveoli

Batasan karakteristik :
·         Gangguan penglihatan
·         Penurunan CO2
·         Takikardi
·         Hiperkapnia
·         Keletihan
·         Somnolen
·         Iritabilitas
·         Hypoxia
·         Kebingungan
·         Dyspnoe
·         Nasal faring
·         AGD Normal
·         Sianosis
·         Warna kulit abnormal (pucat, kehitaman)
·         Hipoksemia
·         Hiperkarbia
·         Sakit kepala ketika bangun
·         Frekuensi dan kedalaman nafas abnormal

Faktor faktor yang berhubungan :
·         Ketidakseimbangan perfusi ventilasi
·         Perubahan membran kapiler-alveolar
NOC :
v  Respiratory Status : Gas exchange
v  Respiratory Status : ventilation
v  Vital Sign Status
Kriteria Hasil :
v  Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat
v  Memelihara kebersihan paru paru dan bebas dari tanda tanda distress pernafasan
v  Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
v  Tanda tanda vital dalam rentang normal
NIC :

Airway Management

·         Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
·         Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
·         Pasang mayo bila perlu
·         Lakukan fisioterapi dada jika perlu
·         Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
·         Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
·         Berika bronkodilator bial perlu
·         Barikan pelembab udara
·         Monitor respirasi dan status O2

Respiratory Monitoring

·         Monitor rata – rata, kedalaman, irama dan usaha respirasi
·         Catat pergerakan dada, amati kesimetrisan, penggunaan otot tambahan, retraksi otot supraclavicular dan intercostal
·         Monitor suara nafas, seperti dengkur
·         Monitor pola nafas : bradipena, takipenia, kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes, biot
·         Catat lokasi trakea
·         Monitor kelelahan otot diagfragma ( gerakan paradoksis )
·         Auskultasi suara nafas, catat area penurunan / tidak adanya ventilasi dan suara tambahan
·         Tentukan kebutuhan suction dengan mengauskultasi crakles dan ronkhi pada jalan napas utama
·         Uskultasi suara paru setelah tindakan untuk mengetahui hasilnya

Acid Base Managemen

·         Monitro IV line
·         Pertahankanjalan nafas paten
·         Monitor AGD, tingkat elektrolit
·         Monitor status hemodinamik(CVP, MAP, PAP)
·         Monitor adanya tanda tanda gagal nafas
·         Monitor pola respirasi
·         Lakukan terapi oksigen
·         Monitor status neurologi

4
Intoleransi aktivitas
Definisi : Ketidakcukupan energi secara fisiologis maupun psikologis untuk meneruskan atau menyelesaikan aktifitas yang diminta atau aktifitas sehari hari.

Batasan karakteristik :
·         melaporkan secara verbal adanya kelelahan atau kelemahan.
·         Respon abnormal dari tekanan darah atau nadi terhadap aktifitas
·         Perubahan EKG yang menunjukkan aritmia atau iskemia
·         Adanya dyspneu atau ketidaknyamanan saat beraktivitas.

Faktor factor yang berhubungan :
·         Tirah Baring atau imobilisasi
·         Kelemahan menyeluruh
·         Ketidakseimbangan antara suplei oksigen dengan kebutuhan
·         Gaya hidup yang dipertahankan
NOC :
v  Energy conservation
v  Self Care : ADLs
Kriteria Hasil :
v  Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR
v  Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara mandiri

NIC :
Energy Management
·         Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas
·         Dorong anak untuk mengungkapkan perasaan terhadap keterbatasan
·         Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan
·         Monitor nutrisi  dan sumber energi tangadekuat
·         Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan
·         Monitor respon kardivaskuler  terhadap aktivitas
·         Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien
Activity Therapy            
·         Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalammerencanakan progran terapi yang tepat.
·         Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
·         Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yangsesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan social
·         Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan
·         Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek
·         Bantu untu mengidentifikasi aktivitas yang disukai
·         Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang
·         Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas
·         Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas
·         Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan
·         Monitor respon fisik, emoi, social dan spiritual


DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth.2002. Textbook of Medical Surgical Nursing. Alih bahasa : dr. H.Y. Kuncoro. (2002). Keperawatan Medikal Bedah.Edisi 8. Vol. 1, Jakarta : EGC.

Krisanty Paula, dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Cetakan Pertama,Jakarta : Trans Info Media.

Lewis, Sharon Mantik. 2010. Medical Surgical Nursing : Assessment and Management of Clinical Problems. Fifth Edition.Missouri : Mosby Inc.

Luckman and Sorensen’s.2003. Medical Surgical Nursing : A Psychophysiologic Approach. Fourth edition.Washington : W.B. Saunders Company.

McCloskey&Bulechek.2010.Nursing Interventions Classifications, Second edisi, By Mosby-Year book.Inc,Newyork.

NANDA.2010-2011.Nursing Diagnosis: Definitions and classification, Philadelphia, USA

Sylvia, A. Price. 2002. Pathophysiologi : Clinical Concepts of Disease Process. Alih bahasa : Peter Anugerah (1994). Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit.Jakarta : EGC.

University IOWA., NIC and NOC Project.2010. Nursing outcome Classifications, Philadelphia, USA

Yesaya, Suwandi. 2004. Asma Menyerang Berbagai Umur. http://www.vision. net.id/detail.php?id=1652.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SP 1 PADA PASIEN ISOS (KEPERAWATAN JIWA)

SP 1 PADA PASIEN PERILAKU KEKERASAN (KEPERAWATAN JIWA)

ASKEP HIPERTENSI